Sabtu, 10 Maret 2012

Akhirat Yang Dirindukan...Akhirat Yang Sering Terlupakan*


Akhirat...
Jauh dekatnya ia, tergantung cara kita mengejarnya
Lama dan sebentarnya, tergantung bagaimana kita berjalan menuju kesana
Sejatinya kita bertaruh untuk sesuatu yang sangat pasti


Akhirat...
Ia semestinya hadir di setiap jenak hidup kita
Meski ia terasa asing dan tak tergambarkan
Ia dekat, tapi kita sering anggap jauh
Ia nyata, bilapun sering di rasa sebatas cerita
Ia bisa menyergap tiba-tiba seperti pemangsa bertaring
Tapi, betapa kita tak pernah menyadarinya !


Akhirat...
Ia seperti sahabat sehati
Ia akan terus melambai, bila kita masih jujur padanya
Ia akan merindukan kita, bila kita juga merindukannya
Ia akan menyiapkan sambutan untuk kita, bila kita masih setia berjalan menuju kepadanya


Kesetiaan seorang mukmin yang mencari cinta sejati
Cinta yang menghidupkan dan memastikan harapan
Kesetiaan seorang mukmin yang mengerti bahwa dunia hanya teman sementara
Dunia kawan yang menangkar mawar tapi juga durinya
Madu tapi juga racunnya
Manis tapi juga pahitnya






*izzatul muthmainnah

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

Sabtu, 25 Februari 2012

SUPER UKHUWAH - Sebuah Renungan*.....



Sahabat...
Bagaimana kondisi hati hari ini...?
Semoga kita tidak pernah terlepas dari dzikrullaah...
Bagaimana dengan qiyamullailnya semalam...?
Sudahkah kita membayangkan satu persatu wajah saudara/i kita dan memohon kepada ALLAH agar kita dan mereka istiqomah dalam menempuh jalan ini...
Agar kita dan mereka selalu diberi kelembutan hati dalam menyampaikan amanah da'wah ini...
Agar kita dan mereka diberi tambahan keimanan sehingga tetap tegar dalam jalan panjang ini...
Semoga kita dan mereka tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang masih memendam rasa kesal atau benci kepada saudara kita...
Astaghfirullaahal 'azhiim...

Sahabat...
Mungkin kita pernah kesal dalam hati terhadap ikhwah dan jama'ah
Ketika kita merasa seperti dibiarkan larut dalam masalah pribadi tanpa ada yang menemani dan bersimpati
"kenapa mereka tidak mengerti saya!!!" saya inikan sibuk, saya juga punya urusan, tak tahukah mereka kalau sekarang saya sedang ada masalah, mereka sepertinya tidak mau mengerti dan tidak mau mengerti !!! mana ukhuwah yang selama ini mereka dengungkan...???"

Sahabat...
Secuek apapun ikhwah terhadap kita ternyata itu masih lebih baik daripada kita dibiarkan sendiri, menatap wajah teduh mereka
Wajah yang bisa menawar kesedihan dan kecemasan hati kita
Wajah yang biasa kita tatap setiap saat dari kejauhan sebagai penawar kerinduan kita akan syurganya ALLAH
Sekasar apapun cara mereka memberikan taushiyah masih jauh lebih baik daripada tidak terdengarnya tutur sapa seorang ikhwah, suara yang mampu menggetarkan sanubari kita...
Masya ALLAH... tidak ada seorangpun yang mampu membayar keni'matan bersama seorang ikhwah !

Sahabat...
Terimalah ikhwah kita dengan segala kekurangannya
Jangan berharap terlalu tinggi pada moment yang tidak tepat
Jangan selalu membesar-besarkan masalah yang kecil
Mulailah menjaga hubungan itu dari diri sendiri
Jangan terlalu banyak menuntut dari orang lain tapi tuntutlah dari dalam diri kita sendiri terlebih dahulu

Sahabat...
Didepan sana ombak siap menghantam
Batu karang siap menghadang
Badai siap menerjang
Sediakanlah segala macam perbekalan
Sediakanlah api cinta untuk menggodok air kasih sayang
Tuangkanlah kedalam gelas persaudaraan yang didalamnya telah tersedia bubuk kepercayaan dan gula keterbukaan
Kemudian...
Aduklah dengan sendok kelembutan
Dan saringlah dengan saring keimanan

Bersamalah kita dalam ketho'atan !!!
Semangat berjuang mereguk manisnya ukhuwah dalam bingkai kebersamaan meraih ridho dan syurganya ALLAH 'azza wa jalla, bukanlah da'wah yang membutuhkan kita...da'wah akan terus berjalan tanpa adanya kita karena kitalah yang membutuhkannya...


“Jika definisi sahabat hanya diartikan sebagai orang yang mau ikut merasakan suka, duka atau apapun yang Anda rasakan. Maka boleh jadi Anda akan begitu kesulitan mendapatinya.
Namun, jika definisi sahabat Anda perluas maknanya sebagai orang yang mau Anda bagikan segala kebaikan yang bisa anda bagi, Maka boleh jadi akan begitu banyak orang-orang yang ingin menjadi sahabat Anda.”

[SUPER UKHUWAH]

Wallahu a'lam bishshowab




*Kontributor:
MUJAHIDAH

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

BINGKISAN TERAKHIR TUK BUNDA*




“Bunda-bunda!” Serak suaraku memanggil Bunda. Aku melangkah ke kamar bunda dan mencoba membuka pintu kamarnya. Tetapi belum aku membuka lebar, aku melihat bunda-bundaku menangis. Butiran air matanya jatuh saling berlomba. Tangisannya penuh beban dan harapan.

Aku tertegun di balik pintu menatap bunda yang seolah ingin menghabiskan air matanya. Namun, aku tersadar dari tatapanku, ketika bunda mengetahui aku ada di balik pintu. “Syila, sudah pulang nak?” Suara bunda yang masih terisak.

                “Eh-iya bunda. Aku . . . aku ke kamar dulu ya.” Jawabku kepada bunda, dan segera aku menapaki tangga dengan penuh harap ketika aku turun bundaku sudah menampakkan wajah hangatnya dan mencoba untuk menghapus air matanya.

                Sesampainya di kamar, aku termangu duduk di dekat jendela. Hatiku bertanya-tanya kenapa bunda menangis, padahal sewaktu aku berangkat kuliah bunda masih seperti biasa dan . . . . . . . . . . . . . . . Oh tidak!, tiba-tiba aku berpikir akan satu hal, hasil tes penyakit bunda yang ia periksakan seminggu lalu. Apakah hal itu yang membuat bunda menangis atau ada suatu hal lain yang membuat bunda sampai menangis begitu.

                Ketika aku keluar kamar dan menuju meja makan, aku melihat bunda sedang menyiapkan makanan.
                “Menu hari ini apa bunda?” Tanyaku pada bunda.
                “Oh-eh-ini bunda buatkan masakan kesukaan Syila.”
                Setelah itu kami mulai menyantap hidangan yang telah bunda siapkan. Ya, kami hanya berdua. Maklum saja ayahku sudah meninggalkan kami setahun lalu karena kecelakaan.

                Kemudian beberapa menit aku terdiam, aku mulai berpikir suatu hal yang akan aku tanyakan bunda. Suatu hal yang membuatku penasaran.

                “Ehm-Bunda gimana hasil pemeriksaan minggu lalu, sudah keluarkan bunda?” Tanyaku dengan nada lembut.

                Tapi tiba-tiba saja Bunda berhenti menyantap makanannya. Air matanya kembali membasahi pipinya, aku tidak tahu apa pertanyaanku ini salah. Lalu, Bunda menjawab dengan air matanya.

                “Syila maafkan Bunda nak, mungkin ini hari terakhir kita makan bersama.”

                “Memangnya kenapa Bunda?” Jawaban Bunda membuat pikiranku berpikir apa yang sebenarnya ingin bunda katakan. Tiba-tiba saja suasana di meja makan menjadi tak bernyawa. Kami berdua terdiam. Dan-besok bunda akan menjalani perawatan menjelang operasi lusa.”

                Suasana makin gelap, aku . .  aku hanya terpaku dan butiran air mataku mulai keluar dan berjatuhan. Bunda-bundaku akan pergi meninggalkanku. Aku akan sendiri tanpa ditemani ayah dan bunda.

                “Tapi itu masih stadium awal kan bunda dan bunda akan sembuh kan?”

                “Maaf Syila, Bunda sudah terlambat mengetahui penyakit ini dan …”
                “Cukup! Aku tidak mau lagi mendengarkannya Bunda.” Hentakku dengan penuh tidak percaya.

                Dan ketika itu Bunda menghampiri serta memelukku. Ia berbisik padaku, ia mengingatkan bahwa Allah akan menjagaku. Dan Ia (Allah) akan selalu memberiku petunjuk.


RUANG OPERASI, dua hari kemudian ...
                Jantungku berdetak dengan cepat, dan aku hanya berdiri di depan ruang operasi dengan penuh cemas.

                Hari ini Bunda dioperasi dan ini akan menjadi hari yang berat baginya. Aku menunggu dan hanya berdoa semoga operasi yang dijalankan Bunda berhasil serta berharap Allah memberikannya kekuatan.

                “Syila,” Suara dokter memanggilku ketika keluar ruang operasi.
                “Oh-iya dokter bagaimana keadaan bunda sekarang dokter?” Aku bertanya dengan penuh cemas.

                “Maaf Syila, mungkin ia kan bertahan sampai beberapa jam ini saja.”

                “Astaghfirullahalazim!!!, bunda-bolehkah saya temani bunda dokter?”

                “Tentu, tentu saja, temanilah ia di hari terakhirnya.”

                Aku berjalan menuju ruangan di mana Bunda masih terkapar. Ia sedikit sadar dan aku tak kuasa melihatnya meneteskan air mata yang indah itu. Aku menguatkan diri mendekatinya dan menggenggam tangannya. Aku … aku tak bisa menahan air mataku jatuh. Dan tiba-tiba Bunda mengatakan sesuatu padaku.

                “Syila, hanya sampai hari ini nak Bunda bisa menjagamu, maafkan bunda kalau kamu harus hidup sendiri. Jaga dirimu baik-baik dan senantiasa berdoa kepada Allah.”

                Aku tak kuasa mendengar pesan terakhir bunda ini dan ia melanjutkan kembali pesan terakhirnya.

                                “Bunda senang melihatmu tegar nak, jangan jadikan hal ini sebagai kekecewaanmu kepada Allah nak!” Sebelum Bunda melanjutkan kembali pesan terakhirnya itu aku mulai berbicara.

                “Bunda-bunda, Syila sayang Bunda. Bunda, Syila akan berjilbab menutup aurat mulai saat ini seperti Bunda. Bukankah ini yang Bunda inginkan selama ini Bunda?, Maafkan Syila Bunda. Syila sayang Bunda ...” aku menangis tak kuasa.

                Lalu Bunda tersenyum dan detik berikutnya ia mengucapkan lafadz keEsaan Allah. Dan menghembuskan nafas terakhirnya.

                INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN ....

                Bunda telah tiada. Aku hanya terpekur dan memeluknya erat sambil sesegukan untuk terakhir kalinya

                Bunda semoga kau bahagia di sisi Allah. Karena aku tahu Dia mencintai hamba-Nya.




*oleh : Lia Fauzia
Tulisan ini saya temukan pada buku panduan/bundel pesantren kilat SMA, SWARA (Studi WisatA Ramadhan). Semoga diperkenankan oleh penulis aslinya....

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

Kamis, 23 Februari 2012

HIKMAH MALAM..... DI PINGGIRAN JALAN


Malam itu Izam lebih awal pulang dari aktivitas rutin harian, kira-kira pukul 22.30 wib ia meluncur menggunakan sepeda motor kesayangannya. Namun, belum lama meluncur ia merasa ada yang aneh pada tunggangannya itu. Ya...., ternyata ban belakang motornya bocor. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menuntun kendaraannya ke arah jalan raya yang sepengetahuannya ada tukang tambal ban di sana. Memang, jarak antara awal ia menuntun motor dengan tempat tambal ban terbilang tidaklah dekat. Hmmm..... sebagaimana orang-orang pada umumnya yang tertimpa “bencana” bocor ban, Izam sempat berpikir macam-macam. “Ada apa ya?”, “Maksiat apa saya hari ini?” atau “Begitu besarkah kesalahan saya hari ini?” dan lain-lain. Kalimat-kalimat itulah yang silih berganti mengiringi perjalanannya ke tempat tambal ban, sebelum pada akhirnya ia ‘berhasil’ mengelola gaya berpikirnya yang ‘memaksa’ berakhiran serba positif kemudian. Ia tidak mau terbebani secara berlebih pada kalimat-kalimat instrospeksi tadi, ia kemudian membangun sikap sekaligus harap. Ia bersikap, segera memperbaiki segala bentuk kesalahan atas apa yang ia rasakan saat itu seraya berharap bahwa malam ini ia memperoleh karunia hikmah yang begitu jelas nantinya.

Terjawablah harapan itu persis di tempat tambal ban dan berikut adalah kronologisnya. Awalnya ia memarkir motor dalam keadaan siap untuk diperbaiki, kemudian ia melihat sosok tubuh yang begitu besar dengan mimik wajah yang cukup memperlihatkan ekspresi tegas. “Ini orang cukup serem, kayaknya galak & sulit diajak bercakap”, imbuhnya dalam hati. Namun semuanya salah ketika tukang tambal ban ini menyapanya lebih dahulu, “Maaf, ini helmnya takut jatuh”, seraya menunjuk helm yang masih tergeletak di jok motornya sambil memperlihatkan wajahnya yang begitu bersahabat. Dan, melihat wajah yang begitu terlihat berbeda dengan apa yang Izam lihat ketika awal bersua, maka Izam pun merespon balik dengan lebih ceria, “Iya pak, makasih” sambil mengambil helmnya dan meletakkan pada tempat ia duduk. Mungkin, karena sama-sama merasa adanya “atmosfer” persahabatan maka kemudian kami cenderung lebih cair dan tidak kaku. Inilah yang kemudian menjadi titik awal hikmah yang Izam dapatkan malam itu......

Percakapan kami yang begitu cair bermula ketika tukang tambal ban itu berkomentar tentang telepon seluler yang ia simpan dalam saku celananya....
Tukang tambal ban :              
HP ini kadang-kadang ngga’ kerasa cepet rusak, nunduk sedikit (posisi hp tertekan tubuh) eehhh... begitu dilihat lcdnya baret.
Izam :  
- (hanya terdiam, mendengarkan & memperhatikan apa kelak kata-kata lanjutannya)
Tukang tambal ban :
Ya... mending beli hp yang murah-murah aja yah. Habis gampang rusak layar lcdnya.
Izam :    
Iya pak, lcd hp memang sensitif.
Tukang tambal ban :
Saya pernah tuh ditawarin hp di kereta, ya menurut saya sih hp curian. Katanya begini, “Bos ni hp bagus bayarin deh 200ribu aja”. Saya tawar tuh, “50ribu gue ambil”. Eehh... dia mau. Saya periksa di rumah, hpnya bener-bener bagus sih. Cuma saya ngga’ habis pikir, kok hp bagus begini dijual murah amat, “jangan-jangan hasil curian nih” pikir saya. Setelah kejadian itu, saya udah ngga’ mau peduli pada tawaran hp bagus dengan harga amat murah, pikir saya sederhana yaa...paling abis dari mencuri....
“Hidup sekali aja sampe sebegitunya ya....”
Izam :    
Iya ya pak. (mencoba menjadi pendengar yang baik)
Tukang tambal ban :
Iya, hidup cuma sekali aja sampe sebegitunya... Menurut saya, ya apa adanya aja, semampunya, ngga’ usah macam-macam, ngga’ usah ngiri sama yang kaya. Wong semua orang itu kan susah....
Izam:     
???? (menunjukkan mimik bingung/ heran)
Tukang tambal ban :
Ya, semua orang itu pada hakikatnya kan susah. Sekaya apapun seseorang kenapa masih bekerja coba??? Kalo ngga’ ngerasa susah dan sudah cukup kaya ngapain masih kerja??? Yang kaya dan yang miskin, sama-sama kerja berarti kan sama-sama jadi “kuli.” Kuli = susah, jadi sama-sama susah kan??
Izam :    
Bener juga ya Pak !, masing-masing punya tingkat kesusahannya sendiri.
Tukang tambal ban :
Ya, pokoknya hidup jangan ditambah makin susah. Syukuri dan nikmati aja apa yang ada....
Izam :    
- (kembali terdiam dan cukup takjub)

Izam malam itu benar-benar melihat sosok sederhana dengan kata-kata yang begitu ringan tanpa beban, ia berbicara secara spontan tanpa iringan teks  dan tanpa rekayasa ucapan. Satu kalimat yang tak terlupakan, “semua orang pada hakikatnya adalah SUSAH terlepas apakah ia kaya atau miskin.” Pesan itu Izam tangkap dan ia terjemahkan bahwa tidak semestinya kita begitu resah dan iri kepada orang lain, khususnya bagi mereka yang terlihat begitu berlebih dalam tumpukan materi. Allah swt menciptakan keadilan pada setiap makhluk yang diciptakan-Nya. Seseorang yang terlihat miskin secara materi belum tentu mengalami SUSAH dan sebaliknya, seseorang yang terlihat kaya secara materi tidak berarti terbebas dari perkara SUSAH. KeSUSAHan adalah variabel/instrumen pelengkap hidup yang Allah sediakan kepada setiap orang. Yang membedakan dari mereka adalah masing-masing dari setiap orang tadi telah memiliki ruang keSUSAHannya sendiri-sendiri. Jika Allah menciptakan segala sesuatu dengan penuh keseimbangan, maka keSUSAHan adalah niscaya dan keMUDAHan adalah penyeimbangnya.
Tak cukup di situ Izam dibuat takjub, sosok tukang tambal ban tadi sebenarnya bukanlah orang biasa, bukan orang ‘pinggiran’. Meskipun tidak tinggi dalam menempuh jalur studi, tapi paling tidak ia cukup mengenyam bangku pendidikan. Ia juga ternyata memiliki profesi tetap yang cukup menggiurkan atau mempunyai prestise. Melakukan pekerjaan tambal ban baginya adalah mengisi waktu luang saat ia libur dari ke’dinas’an. Dan, yang terpenting dari itu semua adalah tindakannya yang ia lakukan itu ternyata memiliki dua alasan atau latar belakang. Pertama, ia lakukan dalam rangka sekaligus bersilaturrahim ke ibunya di Jakarta sebab profesi aslinya bertempat di daerah jawa barat. Kedua, ia lakukan dalam rangka sekaligus membantu adiknya yang ternyata adalah pemilik usaha tambal ban itu. “Saat saya ke sini (Jakarta), maka saat itu pula adik saya bisa tertidur pulas karena ada saya yang menggantikannya sementara”, ucap Bang Agus - tukang tambal ban badal (pengganti) yang pada akhirnya Izam tahu namanya. Sosoknya kebapakan, terlihat berwibawa namun dengan gaya bicaranya yang begitu supel maka Izam lebih nyaman menyapa dengan sapaan “Bang Agus.”

Luar biasa !!!!, Subhanallah walhamdulillah..... malam itu terlewati begitu berkesan. Ada pelajaran syukur di sana, ada pelajaran arhabuhum shadran (kelapang dadaan), ada pelajaran ausa’uhum nazharan (keluasan cara pandang), ada pelajaran aktsaruhum naf’an (kebermanfaatan sesama orang), dan ada pelajaran bagaimana belajar kerelaan yang maqamnya lebih tinggi di atas kesabaran.



#Red Bridge, Rabbi’ul Awwal 1433 H#

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

Minggu, 23 Oktober 2011

POHON BERDURI



Sahabat...

Bayangkanlah bahwa kita tengah berada dalam suatu kebun yang dipenuhi bunga-bunga dan pepohonan...



Bunga-bunga yang menebarkan bau harum adalah perumpamaan saudara-saudaramu seiman...
Kita cenderung tidak mendapati bunga-bunga itu berduri yang dapat menyakiti tubuhmu, bahkan kita akan menghirup aroma wangi yang terpancar darinya, sedangkan pepohonan lain yang penuh duri dan dapat menyakiti tubuh kita adalah perumpamaan fitnah dan ujian...





Sahabat...

Ujian yang datang silih berganti berpotensi untuk melemahkan hubungan kita dengan ALLAH 'azza wa jalla dan bahkan membelokkan rute perjalanan dari jalan-NYA.
Karena itu singkirkanlah duri-duri tersebut dengan kedua tanganmu dan usirlah fitnah-fitnah yang ada itu dengan pikiranmu... Sehingga akan semakin jelaslah peta perjalanan menuju yang di ridhoi-NYA.


Sungguh jalan da'wah adalah jalan yang sulit dan penuh dengan rintangan.
Akan tetapi dengan izin ALLAH kita akan mampu melintasinya, kita akan mampu menyeberanginya dengan tekad yang kuat dan kepercayaan penuh pada pertolongan ALLAH juga, dengan keyakinan yang kuat pada manhaj Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam serta keakraban dengan mitra saudara-saudara kita seiman...

Sahabat...

Pohon yang berduri tidaklah sedikit, sementara bunga yang menebar aroma harum bisa dibilang tidaklah banyak, karena itu tunduklah bersama bunga-bunga agar dapat terhindar dari duri-duri yang menyakitkan...




:: Juni 19

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

Selasa, 08 Februari 2011

METAMORFOSIS KEBAIKAN





















Kupu-kupu, inilah kata pertama yang terbesit setelah mendengar istilah metamorfosis.
Namun, akan jauh lebih memiliki keluasan makna setelah diikuti dengan beberapa padanan kata.....
Hanya bermaksud mememorikan kata-kata inspirasi dari sahabat yang memungkinkan berkembangnya ke lain inspirasi...


"Kupu-kupu tidak tahu warna sayap mereka,
tapi orang-orang tahu betapa indahnya mereka."


















"Seperti juga manusia, antum semua ayyuhal ikhwah...
tidak tahu betapa indah dan potensialnya dirimu.
Tapi ALLAH tahu betapa istimewanya dirimu."


"Ketika antum:
Tunduk dalam syari'atNya....,
Ridha atas segala takdirNya....,
Tersenyum dalam musibah dariNya....,
Tegar di setiap ujianNya....,
Teguh dalam pendirian."




















SUBHANALLAH.....
Moga kita masuk dalam golongan orang-orang yang dirindukan SurgaNya.
Amin


Bersambung, InsyaALLAH.......
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

Minggu, 09 Januari 2011

UNTUKMU PEGIAT KEBAIKAN

















Renungkanlan lantunan syair nasyid Bingkai kehidupan berikut:


Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan
(KARENA AMANAH YANG DIMILIKI SEORANG AL AKH, JAUH LEBIH BANYAK DARI WAKTU YANG DIKARUNIAKAN KEPADANYA)

Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna di telan masa
Segores luka di jalan Allah
Kan menjadi saksi pengorbanan
(SEBAB INILAH YANG AKAN MENJADI SAKSI DIHADAPAN ALLAH, BADAN YANG TERLUKA, HARTA YANG DIINFAQKAN, DARAH YANG MENETES. SEMUA....SEMUANYA...)

Allah ghoyatuna
Arrosul qudwatuna
Alqur’an dusturuna
Aljihad sabiluna
Almautu fi sabilillah
Asma’ amanina

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al Qur'an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi
(SEBAB INILAH MINHAJ PERJUANGAN KITA,,,TIADA KEBAHAGIAN SEBELUM MENGALIRKANNYA KEDALAM DIDIH DARAH PARA MUJAHID)



----------Inilah jalan kami, Untukmu Kader Dakwah---------

Pada Awalnya…
“Maka, jika antum  memutuskan untuk menjadi aktivis da`wah, bersiaplah menghadapi banyak tantangan, karena menjadi aktivis da`wah berarti terlibat dalam suatu proses perjuangan seumur hidup”.

 “Dan jika ternyata semua serangan itu terlalu kuat dan tak mampu lagi antum atasi, maka bersiaplah sejak awal untuk menerima kenyataan bahwa antum gagal sebagai aktivis da`wah”.

“sampai disini, jika antum memang tetap yakin akan menjadi aktivis da`wah ada baiknya antum teruskan membaca risalah ini. Sebaliknya jika antum tidak yakin, lebih baik lupakan saja risalah ini dan carilah jalan lain yang memang akan membawa antum kepada keberuntungan kebendaan dan kemasyuran nama, bukan jalan para aktivis da`wah”.

Ikhwah Fillah,
Syukur kita panjatkan kepada Allah Ta’ala, karena sampai saat ini, dimana para penghasung da`wah diberi kesempatan untuk melakukan perjuangan dalam medan jihad ini. Kita masih diberi kesempatan untuk turut serta membersamainya, karena didalamnya terkandung makna kesungguhan dan totalitas pengorbanan baik materi maupun tenaga hingga jiwa. Kesempatan membersamai panjangnya jalan da`wah inilah, kita anggap sebagai uji coba buah tarbiyah yang selama ini kita tapaki. Shalawat beriring salam tercurah atas junjungan nabi Muhammad SAW, lewat tarbiyahnya kita merasakan manisnya iman dan ukhuwah bersama saudara-saudara seiman dalam barisan panjang kafilah mulia ini.

Jalan da`wah, sebuah jalan yang mungkin menjadi jalan alternatif kesekian dari banyaknya jalan yang Allah hamparkan diatas muka bumi, yang diambil oleh para hambanya. Jalan yang terjal, panjang, penuh liku dan kelok, cobaan yang tidak saja menyedihkan tetapi justru kesenangan dan sanjungan yang perlu diwaspadai oleh pelaku da`wah. Atas semuanya seharusnya tumbuh benih kesiapan, tidak saja kesiapan untuk tidak menjadi apa-apa atas jalan ini, tetapi juga kesiapan untuk menjadi apa-apa diatas jalan ini, ikhwah, inilah bunga-bunga kefahaman yang menghasilkan buah-buah keikhlasan dalam setiap jiwa pelakunya. Disana dibutuhkan kesabaran atas rintangannya, ketaatan atas manhajnya, pengorbanan atas cobaannya dan kesungguhan atas apapun yang menimpa pelakunya.
  • Ia tidak bersama orang yang terburu-buru memetik buah sebelum masak, tetapi ia tidak pula bersama orang-orang yang hanya menunggu tapi tidak menanamnya.
  • Ia tidak bersama orang yang terburu-buru memetik kuncup sebelum mekar menjadi mawar, tetapi ia tidak pula bersama orang-orang yang menunggu kuncup tetapi tidak merawatnya
  • Ia tidak bersama orang yang berlebihan, tetapi ia pula tidak bersama orang yang enggan dan tidak berbuat sama sekali
  • Ia tidak bersama orang yang bertindak tanpa perhitungan, tetapi ia tidak pula bersama orang yang terlalu takut untuk berbuat
  • Ia tidak bersama orang yang mempersulit diri, tetapi ia tidak pula bersama orang yang menganggap enteng dan meremehkan
Disana pula dibutuhkan kehati-hatian atas tipu daya muslihatnya, kemayuran jabatan, kebesaran nama, kehormatan keturunan, sanjungan atas kerja-kerjanya, yang bisa jadi menumbuhkan sikap bangga diri, yang ujungnya kelak Allah tidak akan melirik kita. Sesungguhnya Allah tidak akan melihat seseorang yang dalam hatinya ada kesombongan meskipun sebesar zarah –biji sawi-

Ikhwah Fillah....
Kusampaikan beberapa  nasihat untuk jiwa ini terutama, syukur antum mampu membersamai kami mengambil hikmah dari semua seruan ini. Ikhwah fillah, dibutuhkan kesiapan diri dalam menapaki kerja da`wah :

Pertama, Siap menanggung beban sebagai tabiat


Ikhwah Fillah,
sungguh keberadaan kita pada pos da`wah terkadang banyak kendala dan cobaan disamping membutuhkan kesiapan lebih. Dapat saya katakan. Adakalanya berada pada pos-pos tugas membosankan bahkan menegangkan karena beban berat. Namun adakalanya menyenangkan karena fasilitas-fasilitas yang menggiurkan, tapi bagaimanapun kita sebagai kader da`wah harus siap di pos-pos tugas da`wah.

Ikhwah Fillah,
Tentang kesiapan di pos da`wah, saya jadi teringat sebuah seruan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari, tatkala beliau memberikan taujih singkat bagi pasukan pemanah dalam perang Uhud. Beliau berseru, “berjagalah di pos kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kalian berhasil mendesak dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut serta menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu”, ya, apapun kondisinya seharusnya kita sebagai kader da`wah siap berada dalam pos-pos da`wah yang telah diamanahkan kepada kita.

Sekali lagi…

Amanah terembankan
Pada pundak yang semakin lelah.
Bukan sebuah keluhan,
Ketidakterimaan,…. Keputusasaan !
Terlebih surut langkah kebelakang.
Ini adalah
Awal pertempuran
Awal pembuktian
Siapa diantara kita yang beriman.

Wahai diri,
Sambutlah seruannya
Orang-orang besar lahir karena beban perjuangan
Bukan menghindar dari peperangan

Kedua,  Pemantapan Ruhiyah sebagai Motor Penggerak Utama


Ikhwah fillah,
Tidak ada satupun yang lebih besar pengaruhnya dalam jiwa, selain daripada menekankan ibadah, Keta’atan dan amalan-amalan Sunnah.Ruhiyah yang mantaplah yang akan menghubungkan hati dengan Allah, meneguhkan jiwa dalam menghadapi segala penderitaan, lulus menghadapi fitnah dan teguh diatas kebenaran.
Komponen dalam tahap ini adalah Ibadah, Tabattul, Qiyamul Lail.Dzikrullah, Tabattul, Tawakkal dan Ibadah pada-Nya adalah senjata satu-satunya dalam pertarungan. Ialah yang membekali kaum mu’minin dengan kesabaran dalam menghadapi cobaan, penyiksaan dan penghinaan. Para  penyeru da’wah sangat memerlukan senjata ini, dalam melaksanakan tugas da’wah yang selalu menghadapi berbagai rintangan dan ganguan. Jika tidak memperhatikan aspek Ruhiyah, Qiyamul Lail, aspek ibadah yang rutin dan berkesinambungan. Kader-kader da’wah pasti akan berjatuhan satu demi satu dan rontok oleh tribulasi. Karena panasnya konfrontasi dengan para thoghut akan mencair dihadapan kehangatan ibadah dan tabattul kepada Allah.

Ironis, bila seorang aktivis da`wah melalui malam-malamnya dengan tidur panjang. Sedang Rasulullah yang dijamin masuk syurga saja selalu menghabiskan malamnya dengan Qiyamul Lail hingga kakinya bengkak!. Kita berharap bahwa keimanan kita adalah keimanan yang hidup. Yang menjelma menjadi semangat besar yang mampu mengalahkan semua kelemahan dan ketidakberdayaan. Keimanan yang melahirkan ekspresi perkasa, membuat orang percaya bahwa dengannya kita mampu menghancurkan gunung, mengarungi lautan, dan melintasi seluruh marabahaya yang menantang kita. Sampai jelas Islam ini menang bersama kita dan kita menang bersamanya.Inilah pekerjaan-pekerjaan besar kita.

Memperluas wilayah pengaruh keimanan tersebut, agar semakin banyak dari umat ini yang memiliki iman-iman yang hidup. Iman yang  mendorong mereka secara sadar tunduk patuh pada ketetapan Allah dalam kehidupan ini. Sekecil apapun usaha kita kearah sana, maka ia adalah bagian yang penting untuk melengkapi keutuhan perjuangan yang kita bangun dengan berjama’ah.  Mungkin perlu kita maknai kembali tetes-tetes keringat dan guratan-guratan lelah pada diri kita. Bahwa semua itu adalah prestasi-prestasi besar yang harus kita hargai. Semua itu adalah instrument-instrumen penting dari sebuah kata singkat yang tidak sederhana PERJUANGAN!!

Tentunya setelah kesadaran itu hadir, tidak perlu lagi kelemahan dan keterlenaan. Dan futur pun hanyalah sekedar saat untuk beristirahat karena setelah karya besar siap ditorehkan, merampungkan perjuangan, menggapai kejayaan Islam.

Ketiga, Kerja cepat sebagai sebuah karakter


Ikhwah Fillah,
Kerja jihad adalah kerja yang membutuhkan pemenuhan segera, setiap seruan-seruan jihad dan kebaikan dalam Al Quran diawali kata-kata yang membutuhkan kesungguhan dan gerak cepat.
  • Berlomba-lombalah –QS. Al Baqarah : 148- (karena dunia ini adalah arena pertarungan).
  • bersegeralah, -QS Ali Imran 133- (karena sejarah tidak pernah menunggu antum)
  • bekerjalah, -QS At Taubah 105-(karena hanya mereka yang berusaha keras yang akan mendapatkan)
  • Berangkatlah, -QS At Taubah 41- (karena diam ditempat tidak akan mengubah keadaan)
 Kepada mereka yang tak segera menyambutnya Kami katakan Jangan salahkan, jika kalian tertinggal dalam barisan ini Sungguh seorang Rasulullah pun Tidak pernah menunggu seorang Ka`ab bin Malik sekalipun.

Keempat, ketaatan sebagai sebuah Akhlaq
Aktivitas pembinaan yang tertata, produktif, dan dilakukan secara jama`I adalah manhaj orisinal dalam Islam, tiada jama`ah tanpa keteraturan, tiada keteraturan tanpa jama`ah dan ketaatan menjadi kader kunci kekokohan jama`ah yang berujung pada produktifitasnya –muntijah- da`wah. Ketaatan merupakan kunci utama kekokohan sebuah jama`ah –organisasi-, sesholeh apapun kader jika ia tidak memunculkan sikap ketaatan maka tidak ada faedahnya bagi jama`ah –organisasi-

“berhati hatilah dengan keshalehan yang tidak taat, ia menipu jama`ah (organisasi) dengan keshalehannya dan menghancurkan jama`ah dengan ketidak taatannya.”


Ikhwah Fillah,
Coba kita renungkan bersama, kalimat-kalimat Allah berikut :
“tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” Al Quran Surat Yaasin ayat 36

Inilah ketaatan, alampun tunduk atas ketentuan Allah, jika sedikit saja ia melenceng dari ketentuan ini maka tunggulah kehancurannya, lalu dapatkah orang-orang berakal mengatakan
“saya bisa mencapai tujuan-tujuan besar jama`ah –organisasi- itu tanpa harus tunduk kepada aturan-aturan jama`ah?”  Atau “Aku menerima fikrah, konsep dan tujuan-tujuan jamaah tetapi aku tidak akan terikat dengan aturan jamaah. Dan aku tidak punya kewajiban dengan taat kepada siapapun” Lalu bagaimana pula dengan orang-orang yang mengatakan “Apa itu aturan-aturan yang membelenggu dan mengganjal harakah, biarkan kami bebas sebab kami bukan anak kecil lagi”, atau mengatakan “mengapa tidak anda biarkan saja para anggota –setelah ditarbiyah- untuk bergerak ditengah masyarakat, menyeru kepada Islam, tanpa mengikat mereka dengan aturan-aturan.”

Dapatkah seorang berakal mengatakan: 
“aku termasuk keluarga partai, aku percaya dengan segala pemikiran yang diserukannya. Akan tetapi, aku tidak mau terikat dengan aturan-aturan, struktur, manajerial, tugas-tugas dan perintahnya”. Ketaatan, yang oleh Hasan al Banna ditempatkan pada rukun ke enam dalam sepuluh rukun bai`at –arkanul bai`at- merupakan kesiapan perintah dan merealisasikannya dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun dalam keadaan malas. (Muhammad Abdullah al Khatib & M. A. Halim Hamid, dalam Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan, 2001)

Kefahaman akan ketaatan dibangun atas marhalah-marhalah –tahapan- yang harus ditapakinya oleh para peniti jalan ini. Ta`rif –pengenalan-, adalah  tahapan pertama, kader pada tahap ini tidak menghendaki ketaatan yang mutlak, sikap yang dituntut pada tahapan ini adalah sikap hormat terhadap aturan-aturan dan prinsiup-prinsip umum organisasi –jama`ah-. Marhalah kedua adalah Takwin–pembentukan-, pada tahap ini system yang muncul adalah murni dalam aspek ruhani dan kemiliteran total dalam aspek operasional, syiar yang selalu melekat adalah “Sami`an wa Tha`atan”, tanda-tanda pertama adanya kesiapan pada tahapan ini adalah ‘ketaatan yang sempurna’. Sedang marhalah terakhir adalahTanfidz –pelaksanaan-. Dakwah tahapan ini adalah jihad –kesungguhan- yang tidak mengenal lelah, kerja yang berkesinambungan untuk mencapai tujuan, serta kesiapan menghadapi ujian dan cobaan. Keberhasilan da`wah pada tahap yang ketiga ini sangat bergantung pada ‘ketaatan yang sempurna’ pada marhalah sebelumnya.

“Da`wah ini tidak mengenal sikap ganda, ia hanya mengenal satu sikap totalitas. Siapa bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama da`wah dan da`wahpun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang lemah dalam memikul beban ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama orang-orang yang duduk. Lalu Allah Ta`ala akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban da`wah ini” asy Syahid Hasan al Banna.

keLima, Keteguhan sebagai benteng jiwa

“Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu?, seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu”. Demikian ujar Mush`ab bin Umair ketika Usaid bin Hudhair, kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah menyentakkan lembingnya karena tidak suka dengan Mush`ab bin Umair yang melakukan da`wah fardhiyyah, door to door menawarkan Islam bagi masyarakat Madinah. Ketika kita menawarkan kebaikanpun, tidak semua orang akan senang dengan aktivitas kita, ada saja alasan dan argumen serta tindakan yang merintangi da`wah kita. Mereka mengacuhkan kita, Kepada mereka, Allah berfirman
“Maka sabarlah sebagaimana orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-Rasul, “Al-Quran Surat Al-Ahqaaf ayat 35.

Mereka menghujat kita Kepada kalian, Allah berfirman: “Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri kebelakang –kalah-. Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan”, Al Quran Surat Ali Imran ayat 111. Kepada kalian kukatan, “jangan bersedih jika antum mendengar kata-kata kasar, karena kedengkian itu sudah ada sejak dulu, bersemangatlah menghimpun keutamaan dan ketekunan, tinggalkanlah celaan orang yang mencela atau mendengki”.

Keenam, Pengorbanan sebagai semangat jiwa

Hai diriku, Ayo berperanglah supaya kamu mati
Itu, lihatlah telaga surga telah menantimu 
Apa yang selalu kamu angankan
Sekarang sudah kamu temukan
Ayo susul mereka berdua
Jangan sampai terlambat, nanti kamu bisa celaka.

Hai  diriku,
Apa lagi yang kamu inginkan
Istrimu pasti akan kamu tinggalkan, dan budak-budakmu pasti akan menjadi merdeka
Piring-piring kecil itu untuk Allah dan Rasul-Nya

Hai, diriku
Masak kamu tidak suka surga
Bukankah sudah lama kamu mengharapkannya
Sekarang bersumpahlah kepada Allah bahwa kamu akan segera menempatinya
Apakah kamu akan terus begini melihat mereka berebut masuk?
(syair Abdullah bin Rawahah)

Shuhaib Ar Rumi ra, untuk dapat membersamai Rasulullah dalam hijrah ia rela menyerahkan seluruh hartanya kepada kaum Quraisy, mendengar berita itu Rasulullah bersabda: “Robiha Shuhaib, Robiha Shuhaib”-untung besar Shuhaib, untung besar Shuhaib-, lalu turun ayat “Diantara manusia ada yang menjual dirinya untuk mendapatkan ridha Allah” Al Quran Surat Al Baqarah ayat 245. Abu Dahdah segera memegang tangan Rasulullah sambil berkata: “saya telah meminjamkan kebun korma saya kepada Allah, di dalamnya terdapat 600 pohon kurma”, lalu ia menuju kebun tersebut, disana ada anak dan istrinya, kemudian Abu Dahdah memanggil “Wahai Ummu Dahdah keluarlah kamu dari kebun itu karena saya telah meminjamkannya kepada Allah”, dari Hayatus Shohabah 2/149 dalam Tarbiyah.

Ketujuh, cinta sebagai semangat da`wah

Seorang ‘Alim berujar tentang cinta
Jika engkau cinta
Maka da`wah adalah kefahaman
Jika engkau cinta
Maka da`wah adalah keikhlasan
 
Jika engkau cinta
Maka da`wah adalah `amal 
Jika engkau cinta
Maka da`wah adalah jihad 
Jika engkau cinta
Maka da`wah adalah taat 
Jika engkau cinta
Maka da`wah adalah pengorbanan 
Jika engkau cinta
Maka da`wah adalah keteguhan 
Jika engkau cinta
Maka da`wah adalah totalitas 
Jika engkau cinta
Maka da`wah adalah kepercayaan 
Jika engkau cinta
Maka da`wah adalah persaudaraan

Kedelapan, keikhlasan sebagai puncak aktivitas

Ia adalah buah dari kefahaman. Kemauan beramal dan keyakinan akan pengawasan Allah.Dan syurga yang dijanjikan.
Seharusnya cukup untuk menghantarkan anda kepada gerbang keikhlasan.

Dari syadad bin Al Hadi ra.  Bahwa datang seorang laki-laki dari suku Badui menghadap Rasulullah, kemudian berkata: “Aku akan berhijrah bersamamu.” Rasulullah kemudian memberitahukan hal itu kepada sebagian sahabatnya. Pada suatu saat kaum muslimin berperang melawan kaum musyrikin, setelah selesai pasukan kaum muslim mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang), kemudian orang tersebutpun mendapatkan bagiannya, “ini apa yaa Rasulullah?”


Rasulullahpun menjawab, “ini bagian untukmu,” Lalu orang itupun berkata “bukan untuk ini aku mengikutimu, aku mengikutimu agar aku terkena anak panah disini (sambil menunjukkan ke arah lehernya) dan aku mati lalu aku masuk syurga”. Rasulullah bersabda “jika kamu jujur kepada Allah dalam hal ini maka Allah akan mengabulkannya”. Mereka beristirahat sejenak kemudian menuju sebuah peperangan menghadapi musuh. Maka orang tadi dibawa kehadapan Rasulullah Rasulullah dalam keadaan terkena anak panah persis dibagian lehernya seperti yang ia isyaratkan sebelumnya. Rasulullah bertanya “apakah ini orang yang tadi?” mereka menjawab, “benar yaa Rasulullah”. Rasulullah pun bersabda “ia telah jujur kepada Allah, maka Allah mengabulkannya”. Kemudian Rasulullah menshalati dan berdo`a untuknya “Ya Allah inilah hamba-Mu, keluar dalam rangka hijrah di jalan-Mu, maka ia terbunuh dalam keadaan syahid dan aku saksi atas hal ini.” Diriwayatkan oleh Nasa`i. Shahabat itupun tidak pernah dikenal namanya dalam sejarah, hingga saat ini !!!

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”, AL Qur`an surat Al-Kahfi ayat 110.

Kesembilan, syurga sebagai balasannya. 

Kenapa kita jual murah jiwa kita
Kita seorang Muslim
Nilai jiwa kita adalah syurga
Yang seluas langit dan bumi
Tidak ada yang lain

Saya jadi teringat sebuah ucapan
jangan tetapkan harga dirimu kecuali dengan syurga. Jiwa orang beriman itu mahal, tapi sebagian dari mereka justru menjualnya dengan harga murah”, ujar Hasan Al Bashri yang dinukil Aidh Al Qarni dalam bukunya Laa Tahzan

Ikhwah Fillah…
inilah mereka yang berbahagia, menjual dirinya dengan syurga, mereka adalah para perindu syurga dan sungguh Allah berkenan mengumpulkan mereka pada apa yang mereka rindukan. Abu Bakar sangat berbahagia dengan ayat, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya” Al Quran surat Al Lail ayat 17-18.
  • `Umar sangat bahagia dengan hadist Rasulullah, “Aku melihat sebuah istana putih di syurga. Lalu aku bertanya, “untuk siapa istana itu?”. Dikatakan kepadaku, “untuk Umar bin Khathab”.
  • Utsman sangat bahagia karena do’a Rasulullah, “Yaa Allah ampunilah utsman apa yang telah lalu dan yang akan datang”.
  •  Ali demikian bahagia atas sabda Rasulullah, “Dia (Ali) adalah lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya"
  • Sa`ad bin Mu’adz demikian bahagia atas sabda Rasulullah, “Bergoyanglah `Arsy Yang Maha Pengasih karenanya”.
  •  Abdullah bin `Amr Anshari sangat bahagia dengan adanya sabda Rasulullah, “Dia diajak bicara Allah langsung tanpa penerjemah”.
  • Sedang Hanzhalah, “Dia dimandikan oleh para malaikat Dzat Yang Maha Pengasih”.
  • Fatimah Az Zahra adalah, Wanita pertama yang akan memasuki Syurga.
  •  Keluarga Yasir, bergembira atas sabda Rasulullah, “Bergembiralah kalian, hai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat kalian adalah Syurga”.
  • Hamzah bin Abdul Muthalib, bergembira atas sabda Rasulullah, “Jibril datang kepadaku untuk mengabarkan bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib dicatat oleh para malaikat penghuni langit lapis tujuh sebagai singa Allah dan singa Rasul-Nya”.
  • Nasibah binti Ka`ab bergembira atas sabda Rasulullah, “Nasibah binti Ka`ab tidur di Syurga Baqi` bersama pada shaddiqin dan para syuhada`. Dari tempatnya yang tinggi dibumi, ia naik ke tempat yang lebih tinggi lagi di langit”.
  • Ja`far bin Abu Thalib, bergembira ketika Rasulullah bersabda, “Aku melihat Ja`far di syurga punya sepasang sayap yang berlumuran darah”.
  • Abdullah bin Rawahah bergembira ketika Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik orang ialah Abdullah bin Rawahah”
  • Amr bin Al Jamuh, bergembira tatkala Rasulullah bersabda, “Demi Allah yang jiwaku berada ditangan-Nya, aku melihat kaki pincang Amr bin Al Jamuh melangkah ke syurga dengan tertatih”.
Pada akhirnya… 
Sejarah memberikan kesaksian kepada kita bahwa keagungan dan kebahagiaan telah menyerahkan pusat kendalinya kepada orang-orang yang teguh dan ta`at dalam medan perjuangan. Di lingkungan ini tumbuh manusia-manusia yang mampu memikul tanggung jawab sejarah dan bukan melepaskan tanggung jawab peradaban.



NB:

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl